Popular Posts

Komisariat Yusuf GMKI Kefamenanu Dorong Pemanfaatan Pangan Lokal Melalui Pelatihan Tempe dan Minuman Herbal Instan di GMIT Pos Pelayanan Eksodus Naen

ORELANEWS.COMKEFAMENANU—Sebagai upaya meningkatkan pemanfaatan pangan lokal, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Kefamenanu khususnya Komisariat Yusuf menggelar pelatihan pembuatan tempe dari kacang tanah serta minuman herbal kunyit dan jahe instan di GMIT Pos Pelayanan Exodus Naen. Minggu (26/04/2026) pukul 11.30 Wita.

Pelatihan pembuatan tempe oleh GMKI Kefamenanu, Komisariat Yusuf dari kacang tanah dibawakan oleh Ketua Bidang Aksi dan Partisipasi (Kabid AP) BPC GMKI Kefamenanu, Arkilaus Seo. Sementara itu, pelatihan pembuatan minuman herbal berbahan dasar kunyit dan jahe instan dibawakan oleh Ketua Pelaksana Bidang (Kapelbid) Aksi dan Partisipasi Komisariat Yusuf, Ali Haga.

Menurut Arkilaus Seorang dan Ali Haga, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai tambah dari pangan lokal, tetapi juga mendorong masyarakat agar kembali mengonsumsi produk tradisional yang sehat serta bernilai ekonomi.

Arkilaus Seo menjelaskan bahwa proses pembuatan tempe dari kacang tanah hampir serupa dengan pembuatan tempe kedelai pada umumnya.

“Kacang tanah terlebih dahulu dibersihkan, kemudian direbus selama kurang lebih 20 hingga 30 menit. Setelah itu, kacang direndam semalaman dan dikupas kulit arinya agar menghasilkan tekstur yang lebih baik,” kata Arkilaus.

Tahap berikutnya adalah proses fermentasi menggunakan ragi tempe. Kacang yang telah dicampur dengan ragi kemudian dibungkus dan didiamkan selama 1–2 hari hingga terbentuk tempe yang padat dan siap dikonsumsi.

Sementara itu, Ali Haga menjelaskan bahwa proses pembuatan minuman herbal kunyit dan jahe instan cukup sederhana.

“Pertama, kunyit dan jahe dibersihkan kulitnya lalu dicuci hingga bersih, kemudian diparut atau diblender. Hasil parutan tersebut dicampur dengan air untuk diambil sari kunyit dan jahenya,” kata Ali.

Lanjut Ali Haga, sari kunyit dan jahe direbus hingga mendidih. Ketika kadar air mulai menyusut, ditambahkan gula pasir dengan perbandingan 1:1:1. Artinya, jika menggunakan 1 kg kunyit, maka diekstrak dengan 1 liter air dan ditambahkan 1 kilogram gula pasir.

Perbandingan ini bertujuan menghasilkan rasa yang seimbang antara manis gula dan cita rasa alami kunyit maupun jahe.

“Gula berfungsi sebagai penyeimbang rasa sekaligus membantu proses pengentalan sari kunyit dan jahe hingga menjadi serbuk instan,” jelas Bung Ali.

Ia menambahkan bahwa minuman herbal kunyit dan jahe instan menjadi alternatif minuman sehat yang bebas bahan kimia dan cocok dikonsumsi dalam berbagai kondisi cuaca.

Dengan adanya serbuk instan dari jahe dan kunyit, masyarakat dapat menyimpannya dalam jangka waktu yang lebih lama dan mengonsumsinya kapan saja.

“Jahe dapat membantu menghangatkan tubuh, melancarkan pencernaan, meredakan masuk angin, serta meningkatkan stamina tubuh,” ungkap Ali.

“Sementara kunyit bermanfaat untuk membantu meredakan peradangan, menjaga kesehatan hati, menjaga kesehatan lambung, serta mengurangi pegal dan nyeri ringan,” lanjut Ali Haga.

Ia juga berharap kegiatan ini mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memanfaatkan pangan lokal sebagai sumber gizi sekaligus peluang ekonomi.

Menurut Ketua Komisariat Yusuf Zenas A. Nainel, kegiatan ini menjadi bukti bahwa inovasi sederhana berbasis pangan lokal mampu menjadi solusi kesehatan sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.

“Hal ini menjadi langkah nyata dalam menjaga kearifan lokal di tengah pesatnya perkembangan produk pangan modern,” kata Zenas.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Badan Pengurus Cabang (BPC), jemaat GMIT Pos Pelayanan Exodus Naen, undangan dari Komisariat Rabuni, serta anggota Komisariat Yusuf.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *