1
1
ORELANEWS.COM – SOE, – Sejumlah warga masyarakat bersama Sekretaris Perkumpulan Masyarakat Hukum Adat dan Budaya Amanuban, Pina Ope Nope nonton bareng (nobar) dan diskusi film investigasi Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita di Nonomeo, Dusun B, Desa Napi, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur NTT. Minggu, (17/05/2026).
Pina Ope Nope mengenai nobar dan diskusi film investigasi Pesta Babi, Ia mengatakan bahwa Negara Indonesia sedang menjalankan pemerintahannya dengan tangan besi, salah satunya adalah perampas ruang hidup masyarakat.
“Misalnya di Papua sana, hutan adat milik rakyat turun temurun diklaim milik negara lalu ditebas habis untuk kepentingan koorporasi,” beber Pina Ope Nope.
Ia berharap agar rakyat Indonesia harus tahu secara kritis bahwa keadaan yang terjadi di Papua dan beberapa daerah di Nusantara adalah wujud kolonialisme dari Republik.
“Sama seperti selama ini jari telunjuk mereka (Pemerintah Pusat) menunjuk ke Belanda dan orang Eropa. Sebaliknya di Timor, Amanuban khususnya tanah-tanah permukiman rakyat diklaim sebagai kawasan hutan dan masyarakat dianggap warga liar,” kesal Nope.
Pina Ope Nope tak hanya membahas Papua, Ia menyentil tanah adat di Amanuban yang dijadikan objek pembangunan Program Strategis Nasional (PSN).
Ia mencontohkan Bendungan Temef di Kabupaten TTS yang mana tanah-tanah rakyat tidak dibayar sesuai kesepakatan, bahkan banyak yang kehilangan tanah sawah mereka.
“Parahnya lagi tanah masyarakat diklaim sebagai kawasan hutan Laob Tumbesi,” kesal Nope.
Mewakili 60-an masyarakat yang turut nobar, Angly Sae mengatakan bahwa sebagai masyarakat di desa, nobar film investigasi Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita adalah wadah edukasi.
“Kami belajar melihat realita bangsa saat ini,” katanya.
Lanjutnya, sebagai masyarakat, mereka berpikir bahwa apa yang dialami saudara-saudari di Papua, suatu waktu mungkin saja di Amanuban juga alami karena adanya klaim kawasan hutan produksi di kampung kami oleh pihak Kehutanan.
“Oleh sebab itu, kami belajar agar nantinya bersikap dengan bijak menyikapi ragam fenomena kedepannya,” tutup alumni Universitas Pelita Harapan Tangerang tersebut.***